Pages
coz I want to breakfree
Senin, 13 Agustus 2012
| tanda pengenal masuk di Museum of Siam |
Perjalanan pertama untuk mengetahui sejarah Thailand (Siam) dimulai dengan menonton film di Gallery 1: Immersive Theather. Di sini akan dikenalkan 7 karakter, yang nantinya akan lebih banyak diketahui di beberapa gallery yang lain.
(bersambung)
Labels: jalan-jalan, Thailand
Minggu, 07 Agustus 2011
Street food adalah salah satu hal yang populer di Bangkok. Berikut adalah lokasi street food yang populer di Bangkok:
Victory Monument
Around this monument to a brief 1941 scuffle between Thai and French forces in Indo-China lies a maze of side-streets and alleys crammed with all kinds of food.
One particularly good stop, just northeast of the monument at the end of Ratchawithi soi 10 and across a little bridge, is Sud Yod Guey Tiaow Reua (Best Boat Noodles). Nine baht gets you a small bowl of delicious boat noodles; eat 20 bowls and you get a free Pepsi.
But the biggest concentration of food lies on the southern side of the traffic circle where hip Thai teens eat and drink late into the night.
If you want a bit more selection, head south down Phaya Thai Road to Soi Rang Nam, which is packed from end to end with restaurants, street stalls and pubs.
Getting there: Take the BTS to Victory Monument. Best time to visit: Evenings.
Tha Phra Chang Pier/Road
f there’s one food rule in Thailand, it’s that the area surrounding any university will be a gastronomic gold mine.
This little cluster of sois and restaurants on the river at the end of Phra Chan Road and beside Thammasat University is more than enough proof.
Out front, it's mostly shops selling clothes and jewelry, but toward the river tiny hallways and crowded wall-to-wall eateries sell nearly every Thai dish imaginable, and many of the seats come with a relaxing river view.
Further down Maharat Road -- past the amulet market -- Tha Chang Pier is another riverside area densely populated with all manner of food and dessert carts.
Getting there: Take the Chao Phraya Express ferry to Tha Chang Pier. Best time to visit: Weekdays, during the day.
Khao San Road
xamples of the human race is also one of the best places to tuck in.
True, much of it is watered-down to appeal to the widest variety of palettes, but if it’s variety you want, you’ve come to the right place.
Everything from falafel and Burger King to khao moo daeng and ginger soup is cooked up here. A quick walk over to Soi Ram Buttree, which curls back behind Wat Chana Songkhram, will get you even more food, but the focus here is more on drinking establishments. Not that there’s anything wrong with that.
Getting there: Take a taxi. Best time to visit: Anytime, Khao San never stops.
Charoen Krung Road/State Tower
This stretch of the long and well-known road -- built in 1861 to satisfy uppity foreigners who wanted a wide road for their horse-drawn carriages so they could get out for some fresh air -- is crammed with sois and sub-sois offering all kinds of food.
Beginning at the base of State Tower at the foot of Silom Road, a walk south on Charoen Krung toward the BTS will offer up enough grub to satisfy any hungry soul.
Nip into Soi Si Wiang for some great khao soi gai or just stay on Charoen Krung for a sizeable selection of stalls.
At the end, turn right into Charoen Krung 50 and finish up with a roti, an artery-clogging log of fried dough, banana, eggs and sugar.
Best time to go: Weekdays between lunch and late afternoon.
Soi Ari
Once a cloistered little neighborhood in the 'burbs, Ari is now home to a Starbucks and an Apple retailer, among other global brands.
Despite this, the little cluster of sois around the Ari BTS station has remained a funky food oasis. Phahon Yothin 7 is the main drag and is lined with all manner of food stalls, open until well after dinner.
The sub-sois and side streets branching off of here contain tons of great choices as well for hungry explorers to sniff out.
Getting there: Take the BTS to Ari station. Best time to go: Any time, especially weekends.
Huay Kwang Market
Another rule of Bangkok food: follow the crowd.
The area around Huay Kwang intersection is populated by large, garish massage parlors, which means lots of people at all hours of the night.
While known as more of a market area, you can find some great food if you turn left off Ratchadapisek Road and follow Pracharat Bamphen Road for a few hundred meters.
It’s a great place to come after a night out, as the stalls serve food well into the wee hours, and the eccentric crowds always make for a good night of people-watching.
The red pork dishes (moo daeng) around here are particularly good.
Getting there: Take the MRT to Huay Kwang station. Best time to go: Any night of the week, after 11 p.m
source: cnngo
Selasa, 26 Juli 2011
Banyak yang sengaja datang ke Bangkok untuk berbelanja, ya kota ini kemudian menjadi tempat yang populer untuk belanja. Beberapa tempat belanja di Bangkok yang menarik untuk dikunjungi.
Jatujak Weekend Market
Pasar yang terdiri dari ribuan stand penjual ini memang sangat terkenal. Berbagai macam barang ada di sini, dari souvenir sampai aromatherapy, semuanya ada. Kalau ingin membeli oleh-oleh, belilah di sini. Beberapa penjual bahkan bisa bahasa Indonesia, mungkin karena saking banyaknya pembeli dari Indonesia ya..
Harganya juga murah dibanding dengan tempat-tempat lain, satu kuncinya pandai-pandailah menawar. Selain berbelanja, ada beberapa tempat makan di sana. Bagi anda yang muslim, jangan khawatir, ada beberapa warung makan muslim di sana. Salah satunya ada di dekat jam besar di tengah pasar Jatujak. Begitu anda datang ke sana, pastilah ada sesuatu yang anda bawa.
Untuk menuju Jatujak market cukup mudah, anda tinggal naik BTS ke Mochit. Dari AIT, anda tinggal naik van tujuan Mochit. Pasar ini hanya beroperasi pada hari Sabtu dan Minggu dari pagi hingga sore. Beberapa teman saya mengatakan bahwa hari Jum'at malam pasar ini sudah beroperasi, namun saya belum pernah membuktikan.
Pratunam
Kompleks pertokoan Pratunam adalah salah satu yang memberikan harga murah bagi anda, dan kuncinya sekali lagi adalah pandai-pandailah menawar. Umumnya yang dijual di sana adalah baju-baju. Berbelanja di Pratunam cukup strategis, karena lokasinya dekat dengan Platinum, Indra Regent dan baiyoke. Jadi siapkan banyak energi saja. Dari Victory Monument, anda bisa menggunakan bus nomor 14.
Untuk pilihan makan, ada beberapa restauran muslim di sana (Indian food) dan ada juga stand halal di food court Indra Regent. Anda juga bisa mencicipi makanan jalanan di sana seperti mangga dll.
Platinum
Platinum yang letaknya dekat dengan Pratunam, juga dekat dengan KBRI. Dari Victory Monument, anda bisa naik bus nomor 62 atau 38. Ada banyak barang yang bisa anda beli di sini, seperti tas, sepatu, baju, cinderamata dan aksesoris. Harganya akan lebih murah ketika anda membeli dalam jumlah banyak (3 pcs). Baju-baju yang adapun lebih bagus dan up to date. Dan jangan lupa untuk menawar.
Di sini ada tempat sholat juga di lantai 2 dan 5. Selain itu di foodcourtnya juga ada stand makanan halal. Banyak orang Indonesia yang datang ke sini. Biasanya orang yang berbelanja membawa koper besar khusus untuk barang belanjaannya.
Pantip
Jika anda sedang berburu barang elektronik, anda bisa datang ke Pantip yang lokasinya tidak jauh dari Platinum dan KBRI. Namun harga barang-barang elektronik di Thailand dan Indonesia tidak jauh berbeda.
Ma Boon Krong
Atau lebih dikenal dengan nama MBK. Untuk menuju MBK, anda bisa menggunakan BTS ke National Stadium. Atau naik bus dari Victory Monument (saya lupa nomor busnya). Ada banyak pertokoan di sana dan juga stand penjual di 'bazaar'. Anda bisa membeli baju, sepatu, souvenir dll di mall ini. Untuk harga, memang lebih murah di Jatujak, namun untuk motif di MBK jauh lebih beragam.
Ada juga tempat shalat di sini dan stand halal di food courtnya (lantai 5). Jika anda ingin mencari DVD bajakan, tersedia pula di sini.
Siam Paragon
Labels: jalan-jalan, Thailand
Senin, 27 Juni 2011
Kunang-kunang atau fire flies boleh jadi adalah hal yang biasa bagi anda, namun bagi beberapa orang ada yang belum pernah melihatnya. Bagi saya, ketika saya kecil, binatang ini acapkali saya lihat di dekat rumah saya bahkan ketika saya berlibur di tempat nenek saya. Namun tidak lagi sekarang, seiring dengan banyaknya bangunan yang berdiri, yang seakan menggusur keberadaan binatang unik ini.
Selain diajak melihat kunang-kunang, melalui boat tour ini anda akan menyaksikan keindahan pemandangan di sekitar sungai tersebut dan juga diajak melihat beberapa hal, salah satunya adalah kuil yang terletak tak jauh di sana. Ini adalah salah satu kepintaran Thailand dalam mengemas pariwisatanya. Rasa-rasanya di sini apapun bisa menarik wisatawan, termasuk kunang-kunang, karena tidak semua orang pernah melihat kunang-kunang dan keberadaannya pun sudah makin jarang saja.
Amphawa adalah salah satu floating market di Thailand, uniknya melihat kunang-kunang menjadi salah satu daya tarik di sini. Anda dapat mengambil boat tour (50 THB) dan pengemudi boat akan membawa anda untuk melihat kunang-kunang di sana. Tapi tentu saja, kunang-kunang bukanlah satu-satunya daya tarik floating market ini. Ada banyak stand penjual yang menawarkan berbagai macam barang, dari souvenir hingga tentu saja makanan. Makanan yang dijual berbagai macam dan cukup unik, dari yang sekedar snack, seafood, dan lain-lain.
Selain itu ada juga penjual yang berada di atas perahu yang menawarkan berbagai macam makanan (seafood) dan juga minuman (cha yen/ thai tea). Ketika itu saya membeli kerang yang digoreng bersama dengan tepung beras, harganya 25 THB. Menu lain yang ditawarkan adalah kerang bakar, udang bakar, cumi bakar, dll. Sambil menikmati makanan, anda bisa menikmati pemandangan yang ada di sana. Namun jika anda ingin makan di lokasi yang cukup nyaman, jangan khawatir, ada beberapa kafe di sana yang terkadang juga menyuguhkan hiburan berupa live music.
Berbeda dengan floating market lainnya yang mulai pagi hari, Amphawa adalah pilihan yang tepat jika anda tidak ingin pergi pagi-pagi, karena Amphawa floating market adalah late market yang dimulai pukul 13.00 - 21.00. Namun floating market ini hanya ada tiap hari Jum'at - Minggu.
Menuju Amphawa floating market cukup mudah, dari victory monument anda bisa menggunakan van yang berada di belakang 7eleven, dengan tarif 80 THB. Atau dari Victory Monument BTS station keluar dari gate no. 2. Perjalanan dari victory monument ke Amphawa sekitar 1,5 jam. Van terakhir dari Amphawa ke Victory Monument pukul 8 malam.
Alternatif yang lain, anda bisa pergi dari terminal bus selatan dan naik bus ke Amphawa dari sana.
Labels: jalan-jalan, Thailand
Selasa, 17 Mei 2011
Jim Thompson (James Harrison Wilson Thompson) adalah seorang businessman (juga arsitek dan kolektor barang-barang antik) dari Amerika, yang kemudian bergabung dengan US Army. Dalam tugasnya, dia berkunjung ke Thailand dan jatuh cinta dengan negara yang dikenal sebagai negeri gajah putih tersebut. Setelah pensiun dari tentara, Jim Thompson tinggal di Thailand dan dia ikut mengenalkan thai silk ke dunia internasional. Dalam perjalanan busnisnya di Malaysia, Jim Thompson menghilang dan tidak ada kabar berita hingga saat ini.
Jim Thompson kemudian membangun sebuah rumah untuk menampilkan koleksi-koleksinya, yang mana pembangunan rumah tersebut butuh waktu satu tahun. Rumah yang terletak di klong (kanal) tersebut kemudian menjadi museum yang dikenal dengan Jim Thompson House.
Menuju Jim Thompson house cukuplah mudah, anda tinggal naik BTS ke National Stadium, kemudian keluar dari pintu keluar 1, setelah turun tangga anda tinggal berbalik arah dan berjalan sampai kemudian ada papan penunjuk lokasi Jim Thompson House. Tiket masuk untuk dewasa 100 THB, dan 50 THB untuk pelajar.
Berbekal kartu pelajar AIT, saya hanya membayar 50 THB. Kemudian akan ada tour service yang disediakan dalam 4 bahasa (Inggris, Perancis, Jepang dan Thailand). Sambil menunggu tour, anda bisa mengunjungi toko souvenir dengan produk-produk berkualitas dan harga yang 'wah'. Satu buah dompet kulit dihargai 2,800 THB atau scarf seharga 870 THB. Ada juga restauran di sana, yang lagi-lagi dengan harga 'wah' (maklum kantong mahasiswa).
Mengikuti tour, anda akan diajak untuk berkeliling rumah Jim Thompson berikut melihat koleksi-koleksi di dalamnya. Uniknya, di rumah yang terbuat dari kayu tersebut, semua pintunya tidak langsung bersinggungan dengan lantai. Ada beberapa alasan terkait hal tersebut, yaitu jika ada banjir maka air tidak masuk ke dalam dan alasan mistis terkait dengan hantu, agar hantu tidak masuk ke dalam rumah.
Rumah kayu bergaya Thailand tersebut menyimpan koleksi dari berbagai negara, tidak hanya Asia tetapi juga Eropa. Misalnya saja lantai keramik yang didatangkan dari Italia atau lampu kaca yang berasal dari Belgia, selain berbagai macam porselin yang dibawa dari China.
Labels: jalan-jalan, Thailand
Senin, 31 Januari 2011
Tertarik mengetahui sejarah Thailand? jangan lupa berkunjung ke Ayuthaya. Di masa lampau kota ini menjadi ibukota Thailand sebelum kemudian dikuasai Birma.
Ada beberapa cara menuju Ayuthaya. Dari AIT bisa ke stasiun Chiang Rak (20 THB), perjalanan ditempuh kurang lebih 1,5 jam. Kereta apinya mengingatkan saya pada kereta api ekonomi di Indonesia. Begitu tiba di stasiun, akan banyak sopir tuktuk yang menawarkan jasanya. Bila anda tidak ingin capek, bisa menggunakan jasa tuktuk, namun tentu saja karena tidak sesuai dengan prinsip ekonomis, kami menolak tawaran sopir tuktuk. Dari stasiun, anda bisa berjalan menuju sungai untuk menyeberang (3-4 THB). selanjutnya bisa menyewa sepeda di cafe yang tidak jauh dari tempat anda berhenti (40 THB). Karenanya, sangat disarankan untuk datang pagi-pagi, rental sepedanya hanya hingga pukul 18.00. Alternatifnya, dari Future Park bisa naik van ke Ayuthaya (maaf tidak tahu biayanya).
Sejauh mata memandang, rasanya yang ada adalah temple dan temple. Untuk dapat mengunjungi semua temple anda bisa membeli tiket terusan seharga 500 THB, sementara jika anda ingin membeli secara terpisah di setiap temple, harga tiket 50 THB untuk foreigner.
Wat Phra Mahathat
Admission 50 THB. Rasanya ke Ayuthaya belum lengkap jika belum mengunjungi temple ini. Hal yang menarik dari temple ini adalah patung kepala Budha terbelit diantara akar-akar pohon. Selain itu ada beberapa stupa dan patung-patung Budha di sana. Menariknya di salah satu sisi terdapat beberapa patung Budha tanpa kepala. Beberapa bangunan di situ pernah saya lihat di Ancient Siam, tentu saja dalam keadaan yang lebih bagus (mengingat hanya replika saja, sementara di Ayuthaya terlihat hanya puing-puing saja).
Wihaan Phra Mongkhon Bophit
Admission fee: free.
Labels: Thailand
Kamis, 13 Januari 2011
Akhirnya kesampaian juga ke Phuket. Dari Bangkok menuju Phuket bisa menggunakan Bus (pemberangkatan dari Southern Bus Station). Lebih lengkapnya, untuk scedule bisa dibaca di sini. Tapi jika tidak menggunakan bus pemerintah, harganya bisa lebih murah lagi. Namun, tentu saja fasilitasnya masih lebih bagus bus pemerintah (apalagi untuk soal makan). Bangkok-Phuket ditempuh selama 12 jam. Alternatif lainnya, tentu saja naik pesawat kurang lebih 1 jam. Dan naik kereta api ke Hualampong dan lanjut dengan naik bus. Kalo yang terakhir ini saya nggak tau dengan pastinya.Saya menggunakan bus pukul 06.00 dan sampai Phuket bus station pukul 19.00. Harga tiket 676 THB dan bus berhenti 1 kali untuk lunch (free lunch), serta ada fasilitas bantal kecil, selimut, kue dan air minum. Karena sampai di terminal Phuket sudah malam, jadi saya menggunakan ojeg menuju ke patong (250 THB). Jika sampai pagi atau siang, bisa menggunakan bus.
Saya memang memutuskan untuk menginap di Patong. Saat itu sedang peak season (7-11 januari), jadi banyak hotel yang penuh dan tarifnya juga tinggi. Hari pertama menginap di hotel beu.... di Rat-u-thit. Harga kamar 600 THB (van, refrigerator, balcony). Sementara hari kedua, menginap di Odin's Guest House di 51 Rat-u-thit, harga kamar 500 (van), harga kamar ac 600 THB namun jika menginap lebih dari 1 hari, mungkin dapat lebih murah lagi. Hanya saja, kasurnya keras. Beberapa penginapan lain, yang disarankan di beberapa blog dan kaskus, full dan harganya juga cukup mahal. Paling murah my dream hotel (700 THB) yang lokasinya di belakang hotel ibis. Fasilitas sudah dengan aircon, namun kamarnya kecil. oya, jangan lupa pas cari hotel untuk nawar, bisa kok ditawar. Dari hotel tersebut hanya butuh kurang lebih 5 menit jalan kaki menuju patong beach. Jika ingin ke Patong beach, lebih baik di pagi hari, jadi belum rame karena semakin siang semakin ramai. Dari sana mencari tiket ke phi phi island dan mendapatkan open tiket 500 THB, setelah melalui proses tawar menawar. Jika jumlah orangnya banyak, mungkin bisa dapat lebih murah lagi. Membeli di tour agency lebih murah daripada membeli langsung di pelabuhan, karena ada fasilitas penjemputan ke hotel dan ketika pulang dari phi-phi juga diantar ke patong lagi dengan van, tapi bisa juga minta berhenti di Phuket town. Ketika berada di Phuket town, harga tiket ke phiphi 550 THB (roundway). Jadi ya nggak merasa rugilah. Kemudian menyewa motor di hotel, kena 200 THB. Bensin di Thailand lumayan mahal juga. Jika beli eceran 40 THB/ liter. Dengan motor melalanglang buana ke Kata Beach, Karon Beach, Kamala Beach dan Surin Beach. Tapi nggak sempet ke promthep cape. Namun di 4 pantai tersebut sudah sangat ramai, benar-benar jadi lautan bule. Akhirnya ke Leam Sing Beach. Pantainya bagus dan banyak bule, namun tidak seramai di 4 pantai tersebut. Pantai di sini warnanya hijau dan ombaknya tidak besar. Hati-hati jika naik motor, karena jalannya cukup berbahaya, berdasarkan info di lonely planet, tiap tahun ada 600 kecelakaan.
Ada beberapa pusat perbelanjaan di Patong, salah satunya Jungcylon (ada carefournya juga). Banyak juga daerah walking street, dan di sepanjang rat-u-thit, banyak penjual kaki lima. Untuk makan yang murah bisa cari di belakang Jungcylon, ada night market dan bisa makanan dengan harga relatif murah. Alternatif lainnya adalah di 7eleven. Cukup banyak penjual yang bisa bahasa melayu, mungkin karena banyak komunitas muslim disana. Jangan lupa mencoba mangga+sticky rice dan juga som tam (papaya salad). Di Patong bisa melihat beberapa pertunjukan: simon cabaret (lady boy) atau fantasea. karena harga tiketnya mahal, saya tidak jadi nonton. Atau bisa juga nonton thai boxing. untuk pembelian tiket bisa ke tour agency. Jangan lupa nawar ya...
Hari ketiga, pagi-pagi setelah menunggu beberapa saat, akhirnya datang juga van yang menjemput ke phi-phi island. Karena ngantuk, jadi sepanjang perjalanan saya tidur dan tiba-tiba sudah sampai saja di pelabuhan. Kami naik kapal bersama 300 orang lainnya. Perjalanan dari Phuket ke Phi Phi sekitar 4 jam, dan ketika sampai di sana sudah banyak orang menawarkan hotel. Sempat juga ada yang bilang kalau di Phi Phi semua hotel menawarkan 2 malam. Nekat saja, mencari penginapan di sana, dan akhirnya dapat juga. Hotel di Phi Phi mahal-mahal dan sekali lagi karena peak season banyak hotel yang full. Saya menginap di Parichat House (dekat Loh Dalum Bay) dengan harga 700 THB (no bathroom/ share bathroom). Kamarnya mengingatkan saya pada sebuah kos-kosan di Salemba yang sempat saya lihat, karena dindingnya menggunakan anyaman bambu. Selanjutnya dari phiphi menyewa boat untuk putar-putar dan berhenti Maya Bay, waktu itu belum banyak turis, namun semakin siang disana semakin banyak turis. Sempat juga berendam di Maya Bay, dan alhasil jadi terbakar matahari (lesson learnt: jangan lupa bawa sunblock). Untuk t-shirt Phi phi, hanya dijual di phi phi. Jadi jika ingin membeli, belilah di Phi Phi.
Phi Phi di waktu malam, full dengan music, party, bar. Akhirnya saya memutuskan tidur cepat. Pagi-pagi hari bisa pergi ke view point untuk melihat sunrise. Sayang saya nggak sempat melihat tsunami village di sana. Untuk makanan di phi phi sedikit lebih mahal dibanding Patong. Ada banyak paket tour di Phi Phi, misalnya untuk diving atau snorkeling. Snorkeling+sunset view 350 THB. Ada tempat makan yang lumayan enak di Phi-phi, sayang saya lupa namanya. Tom yamnya enak, bisa request yang suka pedas. Sayang nggak punya fresh juice. Ada juga masjid di phi phi.
Untuk kembali ke phuket dengan kapal, harus datang lebih awal jika tidak, tidak kebagian tempat duduk. Kapal yang saya tumpangi lebih kecil dibanding dengan kapal awal, alhasil kapal tersebut penuh sesak dengan penumpang. Dari pelabuhan ke phuket town kurang lebih 45 menit. Saya berhenti di On On hotel (yang menjadi tempat syutingnya the beach). Hotel tersebut berada di kawasan kota tua, dan bangunannya pun juga tua. Jika ingin merasakan menginap di hotel tua, bisa mencoba menginap di On On hotel. Kamarnya cukup murah 250 THB/ malam untuk standard room, sayang tidak ada colokan listriknya. Untuk kamar tanpa bathroom, harganya lebih murah lagi. Saya hanya menginap 1 malam saja di On On hotel, selanjutnya ganti penginapan ke Ana Mansion yang letaknya di dekat Pearl Hotel, harga kamarnya 280 THB, dengan fasilitas TV, fan. Namun sebenarnya bisa dapat kamar lebih murah lagi 200 THB (tanpa TV).
Phuket town cukup kecil, dan bisa dikeliling dengan berjalan kaki saja. Bangunan di lokasi kota tua cukup menarik dengan arsitektur shino-portuguese. Anda bisa berkunjung ke museum post & telecomunication (free) dan juga ke museum phuket (200 THB). Selain itu juga bisa berkunjung ke masjid, yang lokasinya berdekatan dengan gereja dan chinese temple. Ada banyak temple, yang bisa anda kunjungi di Phuket town. Di pagi hari di ranong ada pasar buah-buahan, dan disepanjang jalan itu cukup banyak vegetarian restorant. Di weekend night, ada pasar malam di daerah tersebut, namun sayang saat saya kesana bukan di hari sabtu-minggu.
Sayang saya tidak sempat ke Big Budha. Jika waktu memungkinkan bisa sekalian ke Krabi atau ke James Bond Island.
Foto-foto bisa dilihat di sini
Labels: jalan-jalan, Thailand
Selasa, 23 November 2010
Loy Kratong at a glance
Loy Kratong Festival is a festival celebrated annually in Thailand and certain part of Laos on the full moon in November. "Loi" means "to float" and a "krathong" is traditionally made from a section of banana tree trunk. People place a candle and incense sticks also firework in their krathongs, then float them on a local river or pond. When they push away their krathong, they ask for forgiveness in polluting the waterways and also for good luck in the coming months.
My First Loy Kratong
This is my first Loy Kratong in Thailand. Actually I want to go to Ayuthaya to see that festival. Due to my assignments (since it so many..) I go to Thamassat to see that festival. That festival took place near with Thamassat hospital, so you just take a walk. Actually the festival start at 7 pm, but you can go earlier.
Lots of stands that sell so many things, from dress, watch and also food. I found fruit salad, and it very yummy (but I forgot to take that picture). There are also lots of games stands. Just remembering a night market in Indonesia when I was child.
I bought my kratong and floated it in the pond, just like another people. I make a wish to God, so I can do well in my study here. The Kratong price is varied, you can found from the cheapest until the expensive one. My Kratong only 20 bath.
There are also the selection of Kratong Princess. But I did not follow that festival until it finish.
In the midnight, the festival will be finnish, and before that, there will be a lot of firework in the sky.
Labels: Thailand
Senin, 11 Oktober 2010
Grand Palace - Wat Po - Suan Lum Night Bazzar (1 day tour)
0 comments Posted by ria permana sari at 00.22Nggak nyangka, ternyata rencana mendadak buat wisata kesampaian juga. Dan tujuan wisata kali ini adalah Grand Palace, Wat Po dan Suan Lum Night Market Bazaar. Akhirnya, kami bersembilan (plus beryll, anggota terkecil grup kami) berpetualang ke sana.
Grand Palace
Grand Palace dibangun pada tahun 1752, dan selama 150 tahun menjadi tempat tinggal Raja Thailand. Bangunan ini dibangun ketika King Rama I memindahkan ibukota dari Ayuthaya ke Bangkok. Bangunan ini sangat indah dan terdiri dari beberapa bagian, yaitu: Wat Phra Kaew, Dusit Pra dan Chakri Mahaprasad Hall.
How to go there?
Ada beberapa cara untuk menuju Grand Palace dari AIT/ Thamassat University:
Pertama, menggunakan van tujuan BTS (30 bath). Dari BTS menggunakan sky train dan berhenti di Siam (30 bath), kemudian berganti kereta menuju ke Thaksin (5 bath). Selanjutnya menggunakan Chao Phraya Boat Express, untuk menuju ke sana dari pintu keluar akan ada penanda yang menunjukkan arah ke Chao Phraya Boat Express station. Selanjutnya dengan menggunakan boat tersebut, berhenti di Tha Chang (14 bath). Dan anda cukup berjalan saja menuju Grand Palace. [cara ini yang kami gunakan ke sana].
Kedua, menggunakan van tujuan National Monument. Dari National Monument menuju ke Ratchavithee Hospital untuk menstop bus (no.12) ke Grand Palace.
Ketiga, menggunakan van ke Thamassat University (not Rangsit). Dari sana anda dapat berjalan ke Grand Palace (tapi lumayan jauh).
Ketika anda menuju Grand Palace, bisa jadi anda akan dihampiri oleh orang yang mengatakan bahwa hari ini Grand Palace tutup sehingga anda tidak dapat berkunjung. Jangan percaya, karena banyak yang mencoba menipu dengan melakukan cara tersebut.
How much the ticket?
Harga tiket ke Grand Palace: 350 bath. Gratis untuk warga Thai, dan jika anda mahasiswa di Thailand, jangan lupa membawa kartu pelajar (student ID) karena anda dapat masuk gratis.
Attention
Karena Grand Palace adalah tempat suci bagi orang Thailand, maka anda harus memperhatikan busana anda.
Wat Po
Dari Grand Palace menuju ke Wat Po, anda dapat berjalan kaki kira-kira 15 menit. Wat Phra Chettuphon Wimon Mangkhalaram Ratchaworamahawihan atau Wat Po adalah salah satu temple terbesar dan tertua di Bangkok. Temple ini disebut juga reclining Budha temple, karena di Wat Po anda dapat melihat reclining Budha, dengan panjang lebih dari 43 meter dan tinggi 15 meter. Wat Po dibangun oleh King Rama I pada abad ke-16, sementara reclining Budha dibangun apada pertengahan abad ke-19 oleh King Rama III.
Di Wat Po, anda dapat melakukan massage, dan ada pula sekolah massage di sana. Wat Po dikenal sebagai tempat lahirnya traditionalmenawarkan kursus Thai Traditional Medicine and Practice, Thai Herbal Drugs dan Thai Traditional Massage. Namun hanya Thai Traditional Massage yang dapat dipelajari oleh orang asing dan orang Thai, selain itu hanya diperuntukkan bagi orang Thai saja. Kursus basic massage sekitar 30 jam dan akan mempelajari beberapa teknik massage dasar untuk menghilangkan lelah, kejang otot dan ketegangan saraf.
How much the ticket?
Harga tiket di Wat Po: 50 bath
Open Time
09.00 am - 06.00 pm.
Suan Lum Night Market Bazaar
Dari Wat Po, kami menggunakan Chao Phraya Express Boat yang tidak jauh dari situ, kira-kira 5 menit (14 bath). Selanjutnya, kami turun di Marine Department Station, dan dari sana anda dapat menggunakan tuk-tuk menuju Hua Lamphong station (sky train) menuju Lumphini Station (40 bath). Dari Lumpini station, tinggal berjalan kaki saja menuju Suan Lum Night Market Bazaar.
Jika anda bepergian ke Thailand, sempatkanlah ke Suan Lum Night Market Bazaar. Karena di sini,anda dapat menemukan berbagai macam souvenir khas Thailand dengan harga yang murah, tentu saja melalui proses tawar menawar.Pasar malam ini beroperasi mulai pukul 04.00 pm - 11.00 pm. Pasar ini sebagaimana dengan Chatuchak, hanya saja lebih rapi dan harganya juga lebih murah. Uniknya, cukup banyak penjual yang bisa berbahasa Indonesia dan menyapa anda dengan bahasa Indonesia. Dan sebagaimana di Tanah Abang, mereka akan memberi harga khusus jika anda membeli dalam jumlah yang banyak.
Pada pukul 06.00 pm, bazaar makanan dimulai, lokasinya di dekat pintu masuk. Untuk dapat membeli anda harus membeli kupon terlebih dahulu dan jika kupon berlebih dapat ditukarkan dengan uang.
Senin, 04 Oktober 2010
Siam park atau Suan Siam adalah salah satu objek wisata di Thailand. Berkunjung ke siam park, membuat saya teringat akan Dufan, meski tentu saja berbeda. Bangunannya terlihat lama, terlebih dengan gambar-gambarnya yang rasanya agak jadul. Namun terawat dengan baik. Kalau dibandingkan dengan Dufan sih menurut saya masih jauh lebih bagus Dufan, namun ada beberapa permainan yang nggak kalah ok.
Siam park terletak di utara bangkok, yang terletak di Khan Na Yao district. Tempat rekreasi ini dibuka sejak November 1980. Selain memiliki banyak tempat bermain, Siam Park memiliki water park terbesar di dunia (masuk dalam Guinness World Records).
Beberapa atraksi di siam park
Big Double Shock
crita-critanya sih seperti rumah hantu gitu, tapi nggak menyeramkan. Anda akan melewati lorong-lorong dan di kanan kirinya ada hantu buatan. Yang membuat terkejut adalah lampu yang tiba-tiba menerangi hantu tersebut (karena lorongnya gelap).
Dinosaurus
Di sini anda akan melihat berbagai miniatur tentang dinosaurus dan juga manusia purba.
Disco.. (ehm, lupa namanya)
Ampuun deh, kapok dengan permainan ini, bikin illfeel. Permainannya berbentuk seperti piring dan anda akan duduk di sisi-sisi priring raksasa tersebut, yang kemudian berputar dan menghentak-hentakkan anda. Tidak disediakan pegangan, jadi anda harus berpegangan di sandaran di belakang anda.
Zona Afrika
Anda dapat memilih untuk naik perahu atau kereta api, sayang saya belum mencoba naik kereta api. Perahu tersebut akan membawa anda berwisata ke Afrika, baik melihat miniatur orang-orang Afrika, binatang-binatangnya dan juga ekspansi orang kulit putih kala itu. Miniaturnya terlihat masih model lama (mengingat kecanggihan tekhnologi saat ini sudah mampu membuat miniatur yang hampir mirip dengan aslinya). At all, lumayan menariklah...
about me
- ria permana sari
- an ordinary in the extra ordinary world. a day dreamer and a feminist wanna be
Labels
- Asia (1)
- backpacker (8)
- bandung (1)
- bogor (1)
- cambodia (3)
- culinary (1)
- Danau Toba (1)
- Eropa (1)
- hongkong (3)
- jalan-jalan (10)
- Lithuania (1)
- Luar Negeri (1)
- macau (3)
- makan (1)
- Medan (1)
- one day trip (1)
- stockholm (1)
- swedia (1)
- Thailand (10)
- traveling (1)
- victoria park (1)
- Vietnam (2)
- wisata (2)