Akhirnya pesawat Ryan Air yang saya tumpangi, sampai di Kaunas, Lithuania setelah menempuh kurang lebih 2,5 jam perjalanan dari Tampere. Kaunas adalah kota terbesar kedua di Lithuania. Bandara Kaunas tidak terlalu besar, namun cukup memadai. Bandara ini beroperasi selama 24 jam, jadi jika ingin berkunjung ke Kaunas dengan penerbangan malam, bisa stay di bandara sambil menunggu pagi. Tidak hanya itu saja, ada tourist information section, dimana anda bisa bertanya.
Saya dan Wanna tidak berlama-lama di Kaunas karena kami harus mengejar bus pukul 3 dini hari ke Vilnius, ibukota Lithuania. Petugas di tourist information section memberitahu kami bagaimana menuju bus station, dan dia menyarankan agar kami menunggu bus di stasiun kereta api. Stasiun kereta api beroperasi selama 24 jam dan jaraknya tidak terlalu jauh dari stasiun bus.
bersambung, mo kuliah dulu ya..
Label: backpacker, Eropa, jalan-jalan, Lithuania
Jika anda sedang berjalan-jalan ke Stockholm, Swedia; sempatkanlah untuk berkunjung ke Riksdaghuset atau kantor parlemen-nya Swedia. Gedung parlemen yang terletak di Gamla Stan cukup mudah ditemukan, dan tentu saja menjadi atraksi yang menarik bagi para turis (terlebih bagi mereka yang ingin mengetahui sistem politik di Swedia). Untuk mengunjungi gedung parlemen, tidak dipungut bayaran (gratis) dan tersedia pula guide tour yang juga tidak dipungut bayaran. Namun, anda harus datang sedikit lebih awal karena harus melewati security check yang cukup ketat. Tidak hanya itu saja, tas harus disimpan di locker yang sudah disediakan dan kamera boleh dibawa namun tidak boleh mengambil foto dengan menggunakan flash.
Keterbukaan dan transparansi merupakan salah satu elemen penting dalam penyelenggaraan demokrasi di Swedia. Hal ini tercermin dari adanya pengawasan publik dalam pelaksanaan politik di Swedia. Sidang parlemen terbuka untuk umum, sehingga publik bisa mengikuti jalannya sidang parlemen.
Mengunjungi Parlemen Swedia tentu saja menjadi hal yang tidak bisa saya lewatkan ketika datang ke Stockholm. Beruntungnya, ketika itu bertepatan dengan adanya sidang parlemen jadi saya bisa melihat secara langsung jalannya sidang parlemen. Sebelum menuju ke tempat duduk untuk para visitor jalannya sidang, saya tak melewatkan kesempatan untuk ke toilet (maklum toilet gratis, mengingat untuk mencari toilet yang tak berbayar cukup sulit). Saya tiba-tiba dikejutkan dengan bunyi alarm, mau tidak mau saya menjadi panik karena saya masih di dalam toilet. Namun tentu saja kebutuhan biologi saya memaksa saya untuk tetap bertahan di sana. Ketika saya keluar, bertepatan dengan rombongan orang-orang yang menuju ruangan sidang bahkan kami hampir bertabrakan dengan salah seorang di antaranya.
Tiba di tempat duduk yang sudah disediakan, seorang laki-laki paruh baya yang saya temui di security check berkata, "Di ruangan ini ada Perdana Menteri Swedia. Kamu tahu yang mana?" Terus terang saya tidak mengikuti perpolitikan di negara-negara Scandinavia ini, dan tentu saja saya tak tahu siapa nama PM Swedia, bahkan wajahnya. Untuk meyakinkan saya bertanya pada lelaki tersebut, "Ough, jadi PM Swedia ada di sini? Terus terang saya tidak tahu PM Swedia." Agak malu juga mengakuinya, namun harus jujur tentu saja ^__^ "Coba kamu tebak yang mana dia." Hmm, cukup sulit juga namun saya serahkan pada feeling saya dan akhirnya saya menunjuk ke seseorang yang tadi sempat hampir saya tabrak. "Iya benar, bagaimana kamu bisa tahu." Tidak menyangka juga ternyata tebakan saya benar, dan saya hanya tersenyum kecil saja sambil bercanda, "Saya cukup pintar dalam menebak."
Akhirnya saya tahu, ternyata bunyi alarm tadi adalah alarm yang memberitahukan bahwa PM datang. Namun ini tentu saja berbeda dengan kondisi di tanah air dimana pengawalan untuk pejabat negara seperti presiden pasti cukup ketat. Sementara di sini, hanya ada alarm dan bahkan hampir saja saya menabrak beliau.
Saya mengikuti jalannya sidang, meski saya tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi karena kendala bahasa. Yang saya tahu, proporsi perempuan dalam parlemen cukup baik, dimana proporsi perempuan dan laki-laki hampir seimbang.
Label: jalan-jalan, stockholm, swedia
Meskipun sebagian besar penduduk Negeri Gajah Putih beragama Budha, namun bukan berarti tak ada komunitas muslim di sana. Beberapa komunitas muslim ini pun bertalian dengan Indonesia. Jika anda sedang berada di Bangkok, sempatkanlah untuk berkunjung ke Masjid Jawa yang terletak di Sathorn District. Anda bisa menggunakan BTS ke Surasak dan bertanya pada penduduk sekitar lokasi surau (masjid).
Masjid Jawa berada di Kampung Jawa, namun meski namanya Kampung Jawa sudah tidak banyak penduduk di sana yang bisa berbahasa Jawa. "Dulu saya bisa bahasa Jawa, sekarang sudah lupa," demikian tutur ibu Asmi dalam bahasa Indonesia. Ibu Asmi dahulu tinggal di Kampung Jawa, namun kini menetap di Ramkaheng. Ayah ibu Asmi berasal dari Jawa, sementara ibunya dari Singapura. Beliau tidak tahu pasti di daerah mana tepatnya Ayahnya berasal. Asal usul kampung Jawa tidak bisa dilepaskan dari perang dunia II dimana banyak orang Jawa yang dijadikan romusha oleh Jepang dan dikirim ke luar pulau atau bahkan ke negara lain (termasuk Thailand).
Tidak jauh dari Masjid Jawa, terdapat pekuburan muslim dan juga madrasah untuk belajar mengaji. Di dalam masjid terdapat bedhug, namun karena sudah ada pengeras suara, bedhug tersebut tidak dipergunakan lagi.
Sambil menunggu adzan maghrib, tidak ada salahnya ngabuburit di Kampung Jawa. Di sepanjang jalan terdapat banyak penjual makanan halal, dan andapun bisa berbuka di Masjid Jawa. Setelah berbuka, ada shalat Maghrib berjamaah dan dilanjutkan dengan makan malam. Secara bergiliran, masyarakat di sana menyediakan hidangan buka puasa tak ubahnya dengan di tanah air. Uniknya, semua makanan dihidangkan disajikan dalam 1 nampan besar untuk 1 meja yang berisi 4 orang, sehingga terasa sekali kebersamaannya. (*)
Street food adalah salah satu hal yang populer di Bangkok. Berikut adalah lokasi street food yang populer di Bangkok:
Victory Monument
Around this monument to a brief 1941 scuffle between Thai and French forces in Indo-China lies a maze of side-streets and alleys crammed with all kinds of food.
One particularly good stop, just northeast of the monument at the end of Ratchawithi soi 10 and across a little bridge, is Sud Yod Guey Tiaow Reua (Best Boat Noodles). Nine baht gets you a small bowl of delicious boat noodles; eat 20 bowls and you get a free Pepsi.
But the biggest concentration of food lies on the southern side of the traffic circle where hip Thai teens eat and drink late into the night.
If you want a bit more selection, head south down Phaya Thai Road to Soi Rang Nam, which is packed from end to end with restaurants, street stalls and pubs.
Getting there: Take the BTS to Victory Monument. Best time to visit: Evenings.
Tha Phra Chang Pier/Road
f there’s one food rule in Thailand, it’s that the area surrounding any university will be a gastronomic gold mine.
This little cluster of sois and restaurants on the river at the end of Phra Chan Road and beside Thammasat University is more than enough proof.
Out front, it's mostly shops selling clothes and jewelry, but toward the river tiny hallways and crowded wall-to-wall eateries sell nearly every Thai dish imaginable, and many of the seats come with a relaxing river view.
Further down Maharat Road -- past the amulet market -- Tha Chang Pier is another riverside area densely populated with all manner of food and dessert carts.
Getting there: Take the Chao Phraya Express ferry to Tha Chang Pier. Best time to visit: Weekdays, during the day.
Khao San Road
xamples of the human race is also one of the best places to tuck in.
True, much of it is watered-down to appeal to the widest variety of palettes, but if it’s variety you want, you’ve come to the right place.
Everything from falafel and Burger King to khao moo daeng and ginger soup is cooked up here. A quick walk over to Soi Ram Buttree, which curls back behind Wat Chana Songkhram, will get you even more food, but the focus here is more on drinking establishments. Not that there’s anything wrong with that.
Getting there: Take a taxi. Best time to visit: Anytime, Khao San never stops.
Charoen Krung Road/State Tower
This stretch of the long and well-known road -- built in 1861 to satisfy uppity foreigners who wanted a wide road for their horse-drawn carriages so they could get out for some fresh air -- is crammed with sois and sub-sois offering all kinds of food.
Beginning at the base of State Tower at the foot of Silom Road, a walk south on Charoen Krung toward the BTS will offer up enough grub to satisfy any hungry soul.
Nip into Soi Si Wiang for some great khao soi gai or just stay on Charoen Krung for a sizeable selection of stalls.
At the end, turn right into Charoen Krung 50 and finish up with a roti, an artery-clogging log of fried dough, banana, eggs and sugar.
Best time to go: Weekdays between lunch and late afternoon.
Soi Ari
Once a cloistered little neighborhood in the 'burbs, Ari is now home to a Starbucks and an Apple retailer, among other global brands.
Despite this, the little cluster of sois around the Ari BTS station has remained a funky food oasis. Phahon Yothin 7 is the main drag and is lined with all manner of food stalls, open until well after dinner.
The sub-sois and side streets branching off of here contain tons of great choices as well for hungry explorers to sniff out.
Getting there: Take the BTS to Ari station. Best time to go: Any time, especially weekends.
Huay Kwang Market
Another rule of Bangkok food: follow the crowd.
The area around Huay Kwang intersection is populated by large, garish massage parlors, which means lots of people at all hours of the night.
While known as more of a market area, you can find some great food if you turn left off Ratchadapisek Road and follow Pracharat Bamphen Road for a few hundred meters.
It’s a great place to come after a night out, as the stalls serve food well into the wee hours, and the eccentric crowds always make for a good night of people-watching.
The red pork dishes (moo daeng) around here are particularly good.
Getting there: Take the MRT to Huay Kwang station. Best time to go: Any night of the week, after 11 p.m
source: cnngo
Perjalanan saya ke Vietnam sebenarnya di luar rencana, karena rencana saya sebelumnya adalah balik ke Thailand, kemudian ke Chiang Mai lalu lanjut ke Laos. Rencana berubah, saya melanjutkan perjalanan ke Vietnam bersama Olga (teman saya dari Spanyol). Menuju Vietnam, kami menggunakan bus dari Sihanoukville (yang ternyata harus kembali ke Pnomphen dahulu). Kemi berangkat pukul 8 am dari Sihanoukville dan sampai di Pnomphen pukul 11.30 am.
Begitu sampai di bus, kondektur meminta para penumpang mengumpulkan paspornya. Bagi saya tentu saja no problem, karena sebagai WNI bebas visa ke Vietnam. Namun tidak bagi Olga, dan dia belum mengurus visa ke Kedutaan Vietnam di Kamboja. Akhirnya kami turun dari bus dan mengurus tiket kami agar bisa diundur untuk besok. Dari terminal kami menuju ke Hotel tempat kami menginap sebelumnya menggunakan tuk tuk.
Label: cambodia, jalan-jalan, Vietnam
Setelah selama beberapa hari banyak jalan (mengitari Angkor Wat, Pasar, beberapa tempat wisata di Pnom Phen), saya dan kawan-kawan menuju ke Sihanoukville. Sihanoukville adalah satu-satunya kota pelabuhan di Kamboja. Nama Sihanoukville berasal dari nama rajanya, yaitu Norodom Sihanouk. Kota ini dikenal pula dengan nama Kampong Som atau Kampong Saom.
Dari Pnom Phen menuju Sihanoukville bisa menggunakan bus. Ada beberapa pilihan bus seperti Sorya dan Mekong Express. Harga tiket bus sekitar 15,000 riel. Kami menggunakan bus 'Sorya', yang terletak di dekat Central Market. Kami berangkat pukul 8 am dan sampai di sana pukul 11.30 am. Dari tempat pemberhentian bus, kami menggunakan tuk tuk menuju penginapan, milik kakak dari teman saya (Naro). Dalam perjalanan ini saya kehilangan body lotion saya (marck & spencer) yang saya letakkan di kantong luar backpack saya. Pelajaran: jangan menaruh barang di kantong luar backpack anda.
Dari penginapan tersebut menuju ke pantai cukup dekat, tinggal berjalan kurang lebih 5 menit kami sudah sampai di sana. Di sekitar pantai banyak orang yang berjual makanan seafood dan ada juga yang menawarkan jasa pijat. Kami di sana sambil menikmati sunset, cukup banyak turis yang berada di sana, entah berenang atau sekedar berjemur.
Untuk berkeliling Sihanoukville, anda bisa menggunakan ojek, tuk-tuk, atau menyewa motor atau mobil. Biasanya guesthouse menyediakan penyewaan motor dan mobil. Saat itu, kami cukup beruntung karena diantar oleh Naro menggunakan mobilnya ^_^ Biaya sewa motor sekitar USD5-8 per hari sementara mobil USD20 per hari (dengan driver).
Label: cambodia, jalan-jalan
Banyak yang sengaja datang ke Bangkok untuk berbelanja, ya kota ini kemudian menjadi tempat yang populer untuk belanja. Beberapa tempat belanja di Bangkok yang menarik untuk dikunjungi.
Jatujak Weekend Market
Pasar yang terdiri dari ribuan stand penjual ini memang sangat terkenal. Berbagai macam barang ada di sini, dari souvenir sampai aromatherapy, semuanya ada. Kalau ingin membeli oleh-oleh, belilah di sini. Beberapa penjual bahkan bisa bahasa Indonesia, mungkin karena saking banyaknya pembeli dari Indonesia ya..
Harganya juga murah dibanding dengan tempat-tempat lain, satu kuncinya pandai-pandailah menawar. Selain berbelanja, ada beberapa tempat makan di sana. Bagi anda yang muslim, jangan khawatir, ada beberapa warung makan muslim di sana. Salah satunya ada di dekat jam besar di tengah pasar Jatujak. Begitu anda datang ke sana, pastilah ada sesuatu yang anda bawa.
Untuk menuju Jatujak market cukup mudah, anda tinggal naik BTS ke Mochit. Dari AIT, anda tinggal naik van tujuan Mochit. Pasar ini hanya beroperasi pada hari Sabtu dan Minggu dari pagi hingga sore. Beberapa teman saya mengatakan bahwa hari Jum'at malam pasar ini sudah beroperasi, namun saya belum pernah membuktikan.
Pratunam
Kompleks pertokoan Pratunam adalah salah satu yang memberikan harga murah bagi anda, dan kuncinya sekali lagi adalah pandai-pandailah menawar. Umumnya yang dijual di sana adalah baju-baju. Berbelanja di Pratunam cukup strategis, karena lokasinya dekat dengan Platinum, Indra Regent dan baiyoke. Jadi siapkan banyak energi saja. Dari Victory Monument, anda bisa menggunakan bus nomor 14.
Untuk pilihan makan, ada beberapa restauran muslim di sana (Indian food) dan ada juga stand halal di food court Indra Regent. Anda juga bisa mencicipi makanan jalanan di sana seperti mangga dll.
Platinum
Platinum yang letaknya dekat dengan Pratunam, juga dekat dengan KBRI. Dari Victory Monument, anda bisa naik bus nomor 62 atau 38. Ada banyak barang yang bisa anda beli di sini, seperti tas, sepatu, baju, cinderamata dan aksesoris. Harganya akan lebih murah ketika anda membeli dalam jumlah banyak (3 pcs). Baju-baju yang adapun lebih bagus dan up to date. Dan jangan lupa untuk menawar.
Di sini ada tempat sholat juga di lantai 2 dan 5. Selain itu di foodcourtnya juga ada stand makanan halal. Banyak orang Indonesia yang datang ke sini. Biasanya orang yang berbelanja membawa koper besar khusus untuk barang belanjaannya.
Pantip
Jika anda sedang berburu barang elektronik, anda bisa datang ke Pantip yang lokasinya tidak jauh dari Platinum dan KBRI. Namun harga barang-barang elektronik di Thailand dan Indonesia tidak jauh berbeda.
Ma Boon Krong
Atau lebih dikenal dengan nama MBK. Untuk menuju MBK, anda bisa menggunakan BTS ke National Stadium. Atau naik bus dari Victory Monument (saya lupa nomor busnya). Ada banyak pertokoan di sana dan juga stand penjual di 'bazaar'. Anda bisa membeli baju, sepatu, souvenir dll di mall ini. Untuk harga, memang lebih murah di Jatujak, namun untuk motif di MBK jauh lebih beragam.
Ada juga tempat shalat di sini dan stand halal di food courtnya (lantai 5). Jika anda ingin mencari DVD bajakan, tersedia pula di sini.
Siam Paragon
Label: jalan-jalan, Thailand